Surat Terakhir Ellena by Egha Latoya - Book Review

10:18:00 PM labollatorium 0 Comments

Surat Terakhir Ellena by Egha Latoya - Book Review

Semua manusia pasti pernah merasakan cinta. Cinta yang berujung dengan kebahagiaan ataupun cinta yang berujung dengan kesedihan memiliki warna dan rasanya masing-masing, unik bagi tiap-tiap insan yang mengalaminya. Mengungkapkan berbagai warna dan rasa yang menyertai cinta pun seolah tak pernah ada habisnya. Kalau kamu adalah seorang yang senang dengan puisi yang berkaitan dengan cinta, maka buku Surat Terakhir Ellena by Egha Latoya ini bisa jadi merupakan buku yang tepat untukmu.

“Ketika semua rasaku kalah saat berhadapan denganmu…”

Demikianlah kutipan yang terdapat di cover depan dari buku Surat Terakhir Ellena terbitan PT Gramedia Pustaka Utama setebal 200 halaman ini. Dari kutipan tersebut sudah cukup tergambarkan bahwa buku ini berisi tentang berbagai rasa dalam berbagai bentuknya terkait dengan cinta dari seorang gadis yang merupakan tokoh fiksi bernama Ellena. Salah satunya adalah rasa sedih…

Sedih
Sedih adalah saat kita banyak dikelilingi oleh cinta, tetapi cinta yang terbagi, cinta yang penasaran, dan cinta yang tak pernah dapat kita rasakan.
Apa cinta yang sudah kau rasakan?

- Surat Terakhir Ellena, Halaman 70.
Setelah saya mulai membaca buku ini, ternyata memang benar. Pada buku yang merupakan kumpulan puisi ini, kurang lebih kita akan dibawa terhanyut dengan kisah Ellena dan berbagai rasa yang muncul di hatinya: rasa saat awal pertemuan dengan sang pujaan, rasa cinta bercampur ragu, rasa rindu yang membiru, rasa cemburu yang memburu, rasa ketika ia tak lagi sama, rasa yang kadang kembali muncul dari masa lalu, rasa-rasa yang sulit terungkap dan harapan-harapan yang tiada henti, dan juga rasa dimana semua kisah telah berakhir atau justru tak pernah menemukan sebuah akhir.

Surat Terakhir Ellena by Egha Latoya - Book Review

Buku Surat Terakhir Ellena ini menyuguhkan ekspresi hati yang dituangkan dalam diksi sederhana, namun terasa dalam dan menyentuh. Apalagi jika puisi yang sedang dibaca persis dengan rasa yang kita alami, mungkin kamu akan tak sadar meneteskan air mata seraya berkata “ini gue banget!” atau mungkin “SUMPAHHH INIII GUEEE BANGETTT!”.

Well, saya sendiri sebenarnya bukan seorang yang sangat paham dengan puisi dan bukan pula seorang yang pandai membuat puisi, sehingga kesederhanaan penyampaian rasa dalam buku ini mudah untuk saya cerna.

Masalalu
“Masalalu jangan diingat-ingat, tapi cukup dikenang saja.”
Kau ingin aku terus berjalan tanpa luka. Kau menarikku jauh dari sebuah masalalu. Kau ingin membuatku maju.
Sampai sekarang aku belum bisa menyebutmu sebagai sebuah masalalu. Aku terus teringat kau.

- Surat Terakhir Ellena, Halaman 158.
Uniknya, Egha Latoya sang penulis yang juga ternyata seorang musisi dan seorang pelukis ini turut menyisipkan gambar-gambar hasil karyanya di buku Surat Terakhir Ellena ini. Barisan kata-kata dan gambar-gambarnya sepertinya benar-benar saling melengkapi satu sama lain dalam menyiratkan keluh kesah hatinya. Bahkan di buku berikutnya yang berjudul ‘Aku Yang Tak Bernama di Hatimu’, Egha Latoya membuat lagu khusus terkait isi bukunya. Multi talenta banget yhaaa Mbaknyaaa… By the way, saya belum punya buku ‘Aku Yang Tak Bernama di Hatimu’ jadi nggak bisa cerita banyak disini, semoga nanti kalau udah punya bukunya bisa saya review juga ya… ;)

Surat Terakhir Ellena by Egha Latoya - Book Review

Seperti judulnya, Ellena menyampaikan surat-surat terakhir untuk yang terkasih tepat di bagian akhir bab dari buku ini. Biar kalian nggak pada penasaran, ini saya salin salah satu surat terakhirnya…

Untuk Kekasih Hatiku Selamanya,
Mimpiku sangat banyak, salah satunya adalah kau. Aku tak tahu kau siapa dan kau di mana. Yang aku tahu, kau adalah seseorang yang sedang aku tunggu, seseorang yang akan mengisi kertas perjalanan hidupku kelak, dengan coretan-coretan warnanya.
Kau yang ingin cepat kutemui, di mimpi sekalipun. Akan kuingat nanti, di mana dan kapan pertama kalinya kita dipertemukan.
Sekarang aku hanya bisa menunggu dalam sabar. Menunggu saat kita dipertemukan Tuhan, dipersatukan Tuhan, menikmati cerita-cerita hidup yang penuh kebahagiaan dan keajaiban dari Tuhan, dan terpisahkan karena Tuhan.
Sampai jumpa di kisah kebahagiaan abadi kita!

- Surat Terakhir Ellena, Halaman 178.
Surat ini menyiratkan kesabaran sekaligus pengharapan akan pertemuan dengan seseorang yang kelak menjadi pelabuhan hati. Coba kalo saya yang nulis, yang ada malah alay dan sama sekali nggak ada unsur keindahan dalam kata-katanya… Hahaha…

Di buku kumpulan puisi ini, yang mungkin -bagi beberapa orang- terkesan menghamba cinta, namun bagi saya pribadi meskipun memang yang menjadi topik buku kumpulan puisi ini adalah cinta, saya tekankan kembali bagi saya pribadi tetap ada pesan moral yang dapat kita petik dari buku ini. Karena merasakan cinta itu adalah anugrah, namun untuk menggambarkannya terlebih untuk menghadapinya tak bisa dianggap mudah. Yang paling saya suka, di akhir buku ini Egha Latoya sang penulis berpesan: “Jangan pernah bersedih, Allah selalu bersama kita. Jika Allah tak berkehendak semuanya tak akan terjadi.”. Kece!

Well, kalo kamu lagi pengen belajar nulis dengan diksi yang baik atau kalau kamu lagi nyari bacaan ringan untuk teman duduk di waktu senggang, buku Surat Terakhir Ellena by Egha Latoya ini saya rekomendasikan untuk kamu!

Hope ya’ll enjoy my review. See you again on the next post!

Love,
Primanola Perdananti for Labollatorium.com

---

BUKU SURAT TERAKHIR ELLENA - IN SUMMARY

Judul buku: Surat Terakhir Ellena
Penulis: Egha Latoya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2017
ISBN: 978-602-03-3757-9
Desain sampul: Robby Dwi Antono
Editor: Raya Fitrah
Jumlah halaman: 200 halaman

You Might Also Love

0 comments: